Jumat, 28 Juni 2019

Cacar Air yang Kambuh Menjadi Cacar Api

Pernah menderita cacar air sewaktu kecil? Hati-hati karena virusnya tetap tinggal di dalam tubuh dan bisa menyebabkan sakit cacar api alias herpes zoster.

Cacar Api
Cacar Api
Saat sembuh dari cacar air, virus varicella zoster ternyata menetap di sel-sel saraf namun dalam keadaan dorman (tidak aktif). Akan tetapi, bertahun-tahun kemudian virus tersebut bisa mendadak bangun dan menyebabkan infeksi kembali.

Gejala-gejala cacar api

Meskipun disebabkan oleh virus yang sama, gejala-gejala yang muncul pada cacar air dan cacar api berbeda. Pada cacar air bintil-bintil berair yang gatal muncul di seluruh tubuh, tapi pada cacar api ruam dan bintil-bintil hanya muncul di satu sisi tubuh atau di area tubuh yang merupakan lokasi saraf yang diserang virus.

Jika bintil-bintil pada cacar air terasa gatal, maka pada cacar api bintil-bintilnya terasa gatal, nyeri seperti terbakar. Seramnya lagi, rasa nyeri itu bisa bertahan bahkan setelah bintil-bintil dan gejala cacar api lainnya hilang. Kondisi yang disebut nyeri pasca herpes zoster itu ada yang berlangsung sampai berbulan-bulan sehingga sangat mengganggu aktivitas penderitanya.

Virus varicella dalam tubuh bisa menginfeksi kembali akibat menurunnya kekebalan tubuh. Pada orang dewasa muda, kekebalan tubuh bisa menurun akibat kelelahan bekerja dan beraktivitas, asupan gizi yang kurang seimbang, kurang olahraga dan stres. Bisa juga karena mengalami penyakit system imunitas tubuh seperti HIV/AIDS. Cacar api menjadi penyakit yang banyak diderita golongan lansia karena system kekebalan tubuh mereka yang memang sudah melemah sehingga virus mudah menyerang.

Jaga daya tahan tubuh dan vaksinasi

Karena virus memang sudah ada di dalam tubuh, cara pencegahan cacar air adalah dengan menjaga daya tahan tubuh tetap kuat. Usahakan untuk menjalani gaya hidup sehat, minimal dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta sempatkan waktu untuk berolahraga.

Lebih baik mencegah daripada mengobati, soalnya cacar aair agak susah pengobatannya. Antivirus diberikan hanya untuk mengurangi keparahan gejala-gejalanya. Apalagi jika sampai mengalami nyeri pasca herpes zoster, pengobatan yang diberikan seringkali tidak bisa menuntaskan masalah nyeri yang berlangsung berbulan-bulan.

Meski saat ini sudah ada vaksinasi untuk pencegahan cacar api, namun lebih efektif diberikan pada orang yang berusia 50 tahun ke atas. Jadi gaya hidup sehat untuk menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh tetaplah upaya pencegahan terbaik. 

Selasa, 25 Juni 2019

Waspadai Skoliosis Ringan pada Remaja

Pernahkah Anda memperhatikan postur anak Anda? Misalnya mengamati caranya berdiri, apakah lebih berat ke satu sisi, atau apakah bahunya sejajar. Jika salah satu bahunya terlihat sedikit lebih tinggi, coba cek lebih lanjut apakah anak menderita skoliosis ringan.

Skoliosis Ringan
Skoliosis Ringan
Cara mendeteksi skoliosis pada anak
Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang skoliosis, yaitu kondisi tulang belakang yang melengkung seperti huruf C atau huruf S. Skoliosis dapat terjadi pada anak segala usia, bahkan bayi. Tetapi, kasus yang paling sering adalah skoliosis mulai muncul saat anak memasuki pubertas.

Untuk mendeteksi skoliosis pada anak, orangtua dapat mengamati postur anak. Perhatikan apakah salah satu bahunya lebih tinggi dari yang lain, amati apakah salah satu tulang belikat lebih menonjol dan apakah satu sisi pinggangnya lebih tinggi dibanding sisi yang lain.

Cara lainnya, mintalah anak Anda untuk membungkuk menyentuh jari kakinya, kemudian perhatikan area tulang rusuknya. Jika salah satu sisi lebih tinggi dibanding sisi lainnya, Anda bisa mencurigai anak menderita skoliosis. Bawalah anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Penyebab anak menderita skoliosis
Penyebab terjadinya skoliosis pada anak usia puber sampai saat ini belum diketahui. Yang pasti bukan disebabkan oleh kebiasaan membungkuk atau kebiasaan anak melengkungkan tubuh ke satu sisi ketika duduk menulis di sekolah. Bukan juga karena anak sering membawa tas ransel yang berat ke sekolah. Para dokter sendiri cenderung percaya bahwa faktor genetik menjadi penyebabnya.

Skoliosis yang timbul pada masa puber memang sebaiknya diperiksa dokter dan terus dimonitor untuk mengantisipasi jika skoliosis bertambah parah dan menimbulkan keluhan. Tapi jangan terlalu khawatir, sebab kebanyakan anak hanya menderita skoliosis ringan, yaitu tulang belakang yang lengkungnya di bawah 20 derajat.

Bisakah tulang belakang anak lurus kembali?
Pada anak dengan skoliosis ringan, orangtua dan dokter bisa terus mengobservasi untuk memastikan derajat kelengkungan tulang belakangnya tidak bertambah, bahkan masih ada harapan tulang belakangnya kembali lurus seiring pertambahan usia.

Kalau pun tulang belakangnya tidak kembali lurus, skoliosis ringan tidak akan membatasi gerak dan aktivitas anak. Tulangnya akan tetaop uat walaupun bentuknya sedikit melengkung. Yang penting, upayakan agar anak mendapat penanganan tepat untuk skoliosisnya.

Selasa, 18 Juni 2019

Operasi ACL untuk Cedera Akibat Olahraga, Apakah Perlu?

Kalian pasti pernah mendengar, bahwa ada satu kondisi cedera pada lutut yang menghantui para atlet eprofesional. Kondisi tersebut dinamakan cedera ligamen lutut anterior, atau cedera anterior cruciate ligament (ACL).
Operasi ACL
Operasi ACL
Cedera ini ditakuti para atlet, karena setelah mengalami cedera dan menjalani operasi ACL, mereka merasa takut performa olahraga tidak dapat kembali seperti biasanya. Lantas, apakah operasi ACL memang bisa menyembuhkan cedera tersebut?

Apa dampak operasi ACL pada tubuh yang mengaami cedera?

Pada dasarnya, setiap orang yang memiliki aktivitas fisik dengan intensitas yang tinggi, dapat mengalami cedera ACL. Aktivitas fisik atau olahraga yang berlebihan, dapat menyebabkan peregangan pada ligamen (jaringan yang menghubungkan tulang ke tulang) anterior pada lutut, sehingga ligamen menjadi putus atau robek.

Harus bagaimana jika mengalami cedera ACL?

Cedera ACL dapat sembuh seiring waktu, dengan bantuan obat-obatan dari dokter dan rehabiltasi medik. Namun pada cedera ACL berat, tindakan operasi perlu dilakukan untuk mengganti ligamen yang rusak, dengan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) dari bagian lain pada tubuh.

Tindakan operasi ini meggunakan metode atau alat artroskopi, dengan membuat beberapa sayatan kecil di area lutut yang cedera, untuk memasukkan alat-alat bedah dan kamera kecil, untuk mengganti ligamen yang rusak. Setelah ligamen yang rusak terambil dan tendon telah disiapkan, dua lubang pada tulang paha dan tulang kering dibuat untuk memfiksasi tendon yang digunakan dan ditempatkan sekrup atau jangkar untuk memperkuat fiksasi.

Prosedur ini hanya memakan waktu kurang lebih satu jam saja dan umumnya pasien dapat pulang pada hari yang sama. Nah, perlu diperhatikan setelah tindakan operasi ACL pasien memerlukan tongkat berjalan supaya tidak membebani kaki terlalu berat. Umumnya pasien akan diminta datang kembali beberapa kali untuk menjalani proses rehabilitasi medis setelah operasi untuk memperkuat otot dan ligamen.

Selalu ikuti saran dokter setelah operasi, perhatikan dan catat apa saja hal yang boleh dilakukan dan yang menjadi pantangan. Apabila anda tidak sabar untuk kembali berolahraga seperti dulu, selalu konsultasikan ke dokter sebelum anda melakukan olahraga tersebut.

Hepatomegali = Kanker? Cek Faktanya di Sini

Coba tekan perut bagian kanan atas, di bawah tulang iga. Jika kamu merasakan seperti ada bongkahan di bagian itu, segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, kamu mungkin mengalami hepatomegali.

hepatomegali
hepatomegali

Hepatomegali
bukanlah penyakit, tapi lebih tepat dikatakan sebagai gejala. Meski begitu, bukan berarti pula kamu bisa menyepelekan kondisi pembesaran hati yang abnormal ini.
Ketika kamu menderita hepatomegali, berarti ada masalah kesehatan lain di dalam tubuhmu. Kanker bisa jadi salah satunya.

Pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk memvonis kalau kamu mengidap hepatomegali atau tidak. Setelah memeriksa perut, kamu akan direkomendasikan untuk menjalani serangkaian proses pemeriksaan berikut ini:

  • Tes pencitraan, seperti USG, CT scan, dan MRI.
  • Tes darah untuk menentukan kadar enzim dalam hati dan mengidentifikasi ada atau tidaknya virus yang mungkin menyebabkan hati membesar.
  • Magnetic Resonance Elastography (MRE) yang menggunakan gelombang suara untuk memetakan kekuatan dari jaringan hati.
  • Biopsi alias pengambilan sedikit jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium.

Setelah menjalani berbagai tes ini, barulah dokter bisa menyimpulkan penyakit apa yang menyebabkan hati membengkak secara tidak normal. Umumnya, kamu mungkin mengidap penyakit-penyakit berikut:

  • Hepatitis virus (paling sering tipe A, B, atau C).
  • Kanker hati.
  • Kanker metastasis alias kanker yang dimulai dari organ lain yang kemudian menyebar ke hati.
  • Kelainan jantung dan pembuluh darah.
  • Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau penumpukan lemak di hati yang tidak disebabkan oleh konsumsi alkohol.
  • Sirosis atau jaringan parut pada hati akibat adanya racun, termasuk alkohol.
  • Penyakit hati alkoholik alias berbagai penyakit hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol, termasuk timbulnya jaringan lemak atau jaringan parut.
  • Kista pada hati.
  • Toxic hepatitis.
  • Leukemia.
  • Limfoma alias kanker darah di dalam kelenjar limfa.
  • Hemokromatis.
  • Multiple myeloma.
  • Wilson’s disease.
  • Gaucher’s disease.
  • Sumbatan pada kandung empedu.

Menyeramkan, bukan?

Maka dari itu, begitu merasa ada yang tidak beres dengan tubuhmu (terutama bagian perut), jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Semakin cepat terdeteksi, penyakitmu bisa semakin cepat diobati.

Kamis, 13 Juni 2019

Pelajari Tekanan Darah Saat Hamil Namun Rendah


Saat hamil, banyak perubahan yang terjadi pada tubuh seorang ibu. Berat badan, ukuran perut, hingga tekanan darah. Tekanan darah saat hamil merupakan hal penting yang harus diperhatikan setiap ibu hamil atau bumil.

Tekanan Darah Saat Hamil
Tekanan Darah Saat Hamil
Bumil pada umumnya bisa mengalami tekanan darah yang rendah pada usia 24 minggu pertama kehamilannya. Tekanan darah disebut rendah ketika tensi berada di bawah 90/60 saat diperiksa.

Penyebab Tekanan Darah Saat Hamil Rendah

Rendahnya tekanan darah saat hamil tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa penyebab dan faktor yang memicu terjadinya tekanan darah rendah.
1.    Dehidrasi
Kebutuhan air yang tidak tercukupi membuat tubuh kekurangan cairan. Kekurangan cairan menyebabkan volume darah berkurang sehingga menyebabkan turunnya tekanan darah saat hamil.

2.    Pendarahan dalam
Pendarahan dalam yang aktif dan tidak ditangani segera membuat seseorang kehilangan darah dan menyebabkan tekanan darah rendah. Apalagi dalam keadaan hamil. Kondisi ini sangat berbahaya.

3.    Pengobatan tertentu
Beberapa obat dapat menurunkan tekanan darah hingga menjadi rendah seperti antidepresan, obat disfungsi ereksi, dan tentu saja obat penyakit darah tinggi.

4.    Kondisi jantung
Beberapa kondisi jantung dapat menyebabkan tekanan darah saat hamil rendah. Kondisi detak jantung yang lambat (bradikardia), masalah katup jantung, serangan jantung, dan gagal jantung dapat ditandai dengan rendahnya tekanan darah.

5.    Gangguan hormon
Kelainan hormon seperti hormon tiroid yang rendah, kelainan hormon paratiroid, gangguan kelenjar adrenal, dan gangguan insulin seperti diabetes bisa membuat tekanan darah saat hamil rendah.

6.    Infeksi
Infeksi berat yang disebut sepsis dapat membuat syok yang ditandai dengan rendahnya tekanan darah. Kondisi ini terjadi ketika penyebab infeksi masuk dalam pembuluh darah dan menghasilkan racun yang membuat turunnya tekanan darah yang dapat mengancam nyawa.

7.    Reaksi alergi
Reaksi alergi anafilaksis merupakan reaksi alergi yang sangat berbahaya. Reaksi ini terjadi sangat cepat dan ditandai dengan tekanan darah rendah, pembengkakan tenggorokan, gatal, menggigil, dan kesulitan bernapas. Jika terjadi pada ibu hamil, reaksi ini mengancam keselamatan ibu dan kandungannya.
Selain 7 kondisi di atas, tirah baring (bed rest) yang lama dan kondisi anemia terkadang juga menyebabkan rendahnya tekanan darah saat hamil.

Metode Paling Mudah Mendeteksi Tahi Lalat

Hampir semua orang memiliki tahi lalat pada tubuhnya. Namun tahukah Anda bahwa ada jenis tahi lalat yang merupakan tanda dari kanker kulit?

Tahi Lalat
Tahi Lalat
Tahi lalat bukanlah kotoran dari lalat yang tertinggal pada kulit manusia dan menetap. Ini merupakan pemikiran yang salah. Tetapi mungkin ini yang dipercaya anak-anak ketika orangtua mereka menyebut kata ini.

Tahi lalat dalam istilah medis disebut nevus yang memiliki arti tanda lahir dalam bahasa latin. Kondisi ini didapat sejak lahir.

Tidak semua tahi lalat sama. Ada dua jenis tahi lalat pada manusia secara umum. Tahi lalat biasa dan tahi lalat yang merupakan tanda awal dari kanker.
Namun jangan khawatir, ada metode ABCDE yang dapat digunakan untuk memeriksa kemungkinan apakah sebuah tahi lalat merupakan tanda kanker atau bukan.

A = Asymmetry (Asimetri)
Tahi lalat normal bentuknya simetris antara sisi satu dengan sisi lainnya. Bila Anda mendapati salah satu sisi tahi lalat anak Anda memiliki bentuk tidak beraturan dan ukuran lebih besar dari sisi lainnya, itu terjadi karena pertumbuhan sel di sisi tersebut lebih cepat. Sel kanker cenderung bertumbuh lebih cepat dari sel normal.

B = Border (Pinggiran)
Tepi tahi lalat yang tidak teratur, bergerigi, atau berlekuk bisa jadi tanda kanker kulit. Tahi lalat biasanya memiliki pinggiran yang jelas dan teratur.

C = Color (Warna)
Warna tahi lalat yang merupakan tanda kanker biasanya lebih terang atau gelap dan memiliki 2 warna. Beda dengan tahi lalat biasa yang hanya memiliki satu warna saja.

D = Diameter (Ukuran garis tengah)
Tahi lalat normal biasanya berukuran paling besar 0.5cm dan tidak bertambah besar seiring berjalannya waktu. Tahi lalat yang melebihi 0.5cm bisa saja merupakan tanda kanker kulit.

E = Evolving (Mengalami perubahan)
Perubahan yang terjadi pada tahi lalat pada bentuk, warna, ukuran, dan jumlah bisa jadi merupakan tanda awal kanker kulit.

Waspadai tahi lalat yang ada pada tubuh Anda. Kenali jenis tahi lalat yang mungkin mengarah kepada kanker kulit.

Ngantuk Saat Kerja Bisa Mengganggu Produktivitas, Atasi dengan Ini

Apakah pekerjaan Anda mengharuskan anda mengambil jam kerja atau shift malam? Apakah Anda sulit berkonsentrasi pada saat bekerja pada shift malam? Apakah Anda masih mencari cara menghilangkan ngantuk saat kerja di malam hari?? Hal ini mungkin disebabkan oleh kualitas tidur Anda yang kurang baik.
Ngantuk Saat Kerja
Ngantuk Saat Kerja
Beberapa dari kita memiliki pekerjaan yang mengharuskan untuk mengambil jam kerja pada malam hari. Dokter, perawat, polisi, penjaga keamanan, penjaga toko 24 jam, dan beberapa pekerjaan lain memiliki jam kerja pada malam hari. Permasalahan utama pada para pekerja yang bekerja pada malam hari hanyalah satu, yaitu, rasa ngantuk.
Sejauh mana dampak mengantuk pada produktivitas kerja?
Apakah Anda pernah merasakan setelah menyelesaikan jam kerja malam anda tidur sebanyak 7 jam atau lebih pada siang. tetapi tetap merasa ngantuk pada malam harinya? Hal ini disebabkan oleh jam biologis tubuh kita, yang tetap mengirimkan sinyal untuk tidur pada malam hari.
Nah, rasa kantuk atau ingin tidur ini mungkin akan terasa nikmat bagi orang yang tidak bekerja. Namun, rasa kantuk ini sangat menyiksa beberapa orang yang harus bekerja pada malam hari. Rasa kantuk ini dapat mengganggu pekerjaan karena proses berpikir, proses pengambilan keputusan, dan konsentrasi menjadi terganggu.
Namun jangan khawatir, beberapa tips singkat di bawah ini dapat membantu Anda mengatasi rasa kantuk pada saat bekerja di malam hari, sekaligus meningkatkan kualitas tidur Anda.
1.    Stop mengambil jam kerja pada malam hari terus-menerus! Selingi dengan libur atau batasi jam kerja pada malam hari, untuk mengurangi efek samping dari kerja pada malam hari.
2.    Biarkan tubuh Anda beradaptasi. Hindari pergantian jam kerja yang terlalu sering.
3.    Apabila terdapat waktu luang, selalu gunakan kesempatan itu untuk beristirahat, kurang lebih selama 30 menit.
4.    Pastikan tempat kerja memiliki pencahayaan yang cukup, supaya Anda tetap fokus dan terjaga pada malam hari.
5.    Stop konsumsi kafeina, terutama pada akhir jam kerja malam Anda. Sebab, kafeina membuat Anda terjaga. Padahal, Anda membutuhkan tidur setelah jam kerja malam.
6.    Setelah jam kerja malam, usahakan tidur di tempat yang gelap dan tidak terkena sinar matahari.
Tidurlah di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian atau gangguan orang.